Rabu, 15 Juni 2011

PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH DAN PERANAN GURU DALAM PELAKSANAANNYA

A. Program Bimbingan di Sekolah
Keiatan bimbingan dan konseling dapat mencapai hasil yang efektif bilamana dimulai dari adanya program yang disusun dengan baik.

1. Pengertian Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell (1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaksudkan untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri.
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan, seperti:
a) Memungkinkan para petugas menghemat waktu, usaha, biaya, dengan menghindari kesalahan-kesalahan, dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan.
b) Memungkinkan siswa untuk mendapatkan layanan bimbingan secara seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan, ataupun dalam jenis layanan bimbingan yang diperlukan;
c) Memungkinkan setiap petugas mengetahui dan memahami peranannya masing-masing dan mengetahui bagaimana dan di mana mereka harus melakukan upaya secara tetap; dan
d) Memungkinkan para petugas untuk menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk kemajuannya sendiri dan untuk kepentingan siswa dibimbingnya.

Pendapat di atas menekankan perlunya rumusan program bimbingan yang jelas dan sistematik.

2. Langkah-Langkah Penyusunan Program Bimbingan

Dalam penyusunan program bimbingan perlu ditempuh langkah-langkah seperti dikemukakan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) seperti berikut:
a) Tahap persiapan.
b) Pertemuan-pertemuan permulaan dengan para konselor yang telah ditunjuk oleh pemimpin sekolah.
c) Pembentukan panitia penyelenggara program.
d) Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan.

Melalui empat langkah tersebut diharapkan program bimbingan itu dapat diwujudkan dengan baik.

3. Variasi Program Bimbingan menurut Jenjang pendidikan
Winkel (1991) memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingkat pendidikan tertentu, yaitu:
a) Menyusun tujuan jenjang pendidikan tertentu, seperti yang telah dirumuskan.
b) Menyusun tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik pada tahap perkembangan tertentu.
c) Menyusun pola dasar yang dipedomani dalam memberikan layanan.
d) Menentukan komponen-komponen bimbingan yang diprioritaskan.
e) Menentukan bentuk bimbingan yang sebaiknya diutamakan.
f) Menentukan tenaga-tenaga bimbingan yang dapat dimanfaatkan, misalkan konselor, guru atau tenaga ahli lainnya.

Berdasarkan rambu-rambu tersebut, program bimbingan untuk masing-masing jenjang pendidikan dapat dirumuskan dengan tepat sesuai dengan karakteristiknya.

a. Pendidikan Taman Kanak-Kanak
Taman kanak-kanak sebenarnya belum termasuk jenjang pendidikan formal dan lebih dikenal dengan pendidikan prasekolah.

b. Program Bimbingan di Sekolah Dasar
Berkenaan dengan penyusunan program bimbingan di sekolahdasar, Gibson dan Mitchell (19810 mengemukakan beberapa factor yang harus dipertimbangkan, seperti:
a) Kegiatan bimbingan di SD hendaknya lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas belajar.
b) Di SD masih menggunakan system guru kelas sehingga seandainya ada anak yang tidak disenangi oleh guru, maka akan lebih fatal akibatnya.
c) Adanya kecendrungan seorang anak bergantung kepada teman sebayanya.
d) Minat orang tua dominan mempengaruhi nilai kehidupan anak.
e) Masalah-masalah yang timbul di tingkat SD, dan tidak terlalu kompleks.

c. Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Secara garis besar program bimbingan dan konseling di SLTP hendaknya berorientasi kepada:
a) Bimbingan belajar, karena cara belajar di SLTP berbeda dengan di SD.
b) Bimbingan tentang hubungan muda-mudi, karena pada usia ini mereka mulai mengenal hubungan cinta kasih (Gibson dan Mitchell, 1981).
c) Pada usia ini mereka mulai membentuk kelompok sebaya, maka program bimbingan hendaknya juga menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan social.
d) Bimbingan yang berorientasi pada tugas-tugas perkembangan anak usia 12-15 tahun.
e) Bimbingan karier baik yang menyangkut pemahaman tentang dunia pendidikan atau pekerjaan.

d. Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Program bimbingan di SLTA hendaknya berorientasi kepada:
a) Hubungan muda-mudi/hubungan social.
b) Pemberian informasi pendidikan dan jabatan.
c) Bimbingan cara belajar.




e. Program Bimbingan di Perguruan Tinggi
Efektivitas dan efisiensi program bimbingan dapat terwujud bila diarahkan kepada masalah-masalah sebagaimana digambarkan di atas. Oleh sebab itu, program bimbingan di perguruan tinggi hendaknya berorientasi kepada:
1) Bimbingan belajar di perguruan tinggi atau bimbingan yang bersifat akademik.
2) Hubungan social dan hubungan muda-mudi.

4. Tenaga Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya.
Dalam kurikulum SMA 1975 Buku III C tentang Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan dikemukakan bahwa konselor di sekolah terdiri dari:
a) Kepala sekolah
b) Penyuluh Pendidikan (Konselor sekolah)
c) Guru Pembimbing/Wali Kelas
d) Guru/Pengajar
e) Petugas Administrasi

5. Struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah. Program bimbingan di sekolah merupakan bagian yang terintegrasi dengan seluruh kegiatan pendidikan. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C dinyatakan bahwa kepala sekolah berperan langsung sebagai koordinator bimbingan dan berwenang untuk menentukan garis kebijaksanaan bimbingan, sedangkan konselor merupakan pembantu kepala sekolah yang bertanggung jawab kepada kepala sekolah.

6. Mekanisme Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Untuk melaksanakan program bimbingan dan konseling di sekolah, konselor beserta personel lainnya perlu memperhatikan komponen kegiatan sebagai berikut:

1. Komponen pemrosesan data
2. Komponen kegiatan pemberian informasi
3. Komponen kegiatan konseling
4. Komponen pelaksana
5. Komponen metode/alat
6. Komponen waktu kegiatan
7. Komponen sumber data



B. Peranan Guru dalam Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah
Dalam layanan bimbingan, guru mempunyai beberapa tugas utama, sebagaimana dituangkan dalam kurikulum SMA 1975 tentang Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.

1. Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di Kelas
Perilaku guru dapat mempengaruhi keberhasilan belajar, misalnya guru yang bersifat otoriter akan menimbulkan suasana tegang, hubungan guru siswa menjadi kaku, keterbukaan siswa untuk mengemukakan kesulitan-kesulitan sehubungan dengan pelajaran itu menjadi terbatas, dan sebagainya. Oleh Karena itu, guru harus dapat menerapkan fungsi bimbingan dalam kegiatan belajar mengajar. Sehubungan dengan itu, Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam proses belajar-mengajar sesuai dengan fungsinya sebagai guru dan pembimbing, yaitu:
a) Perlakuan terhadap siswa didasarkan atas keyakinan bahwa sebagai individu, siswa memiliki potensi untuk berkembang dan maju serta mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk mandiri.
b) Sikap yang positif dan wajar terhadap siswa.
c) Perlakuan terhadap siswa secara hangat, ramah, rendah hati, menyenangkan.
d) Pemahaman siswa secara empatik.
e) Penghargaan terhadap martabat siswa sebagai individu.
f) Penampilan diri secara asli (genuine) tidak berpura-pura, di depan siswa.
g) Kekonkretan dalam menyatakan diri.
h) Penerimaan siswa secara apa adanya.
i) Perlakuan terhadap siswa secara permissive.
j) Kepekaan terhadap perasaan yang dinyatakan oleh siswa dan membantu siswa untuk menyadari perasaannya itu.
k) Kesadaran bahwa tujuan mengajar bukan terbatas pada penguasaan siswa terhadap bahan pengajaran saja, melainkan menyangkut pengembangan siswa menjadi individu yang lebih dewasa.
l) Penyesuaian diri terhadap keadaan yang khusus.


Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran guru sebagai pembiming dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai berikut:
a) Menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap siswa merasaaman, dan berkeyanikan bahwa kecakapan dan prestasi yang dicapainya mendapat penghargaan dan perhatian.
b) Mengusahakan agar siswa-siswa dapat memahami dirinya, kecakapan-kecakapan, sikap, minat, dan pembawaannya.
c) Mengembangkan sikap-sikap dasar bagi tingkah laku social yang baik.
d) Menyediakan kondisi dan kesempatan bagi setiap siswa untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
e) Membantu memilih jabatan yang cocok, sesuai dengan bakat, kemampuan, dan minatnya.


2. Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar Kelas
Tugas guru dalam layanan bimbingan tidak terbatas dalam kegiatan proses belajar-mengajar atau dalam kelas saja, tetapi juga kegiatan-kegiatan bimbingan di luar kelas. Tugas-tugas bimbingan itu antara lain:

1. memberikan pengajaran perbaikan (remedial teaching).
2. memberikan pengayaan dan pengembangan bakat siswa.
3. melakukan kunjungan rumah (home visit).
4. menyelenggarakan kelompok belajar.


Beberapa contoh kegiatan tersebut memberikan bukti bahwa tugas guru dalam kegiatan bimbingan sangat penting. Kegiatan bimbingan tidak semata-mata tugas konselor saja. Tanpa peran serta guru, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah tidak dapat terwujud secara optimal.


C. Kerja Sama Guru dengan Konselor dalam Layanan Bimbingan
Dalam kegiatan-kegiatan belajar-mengajar sangat diperlukan adanya kerja sama antara guru dengan konselor demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan tugas pook guru dalam proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bimbingan, sebaliknya layanan bimbingan di sekolah perlu dukungan atau bantuan guru.

Semburan Lumpur Lapindo Bukan Bencana Alam

NasionaLPress, Surabaya - Semburan lumpur Lapindo, diperkirakan akan berlangsung hingga 26 tahun ke depan. Dampak dari pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas di Sumur Banjar Panji 1 ini, juga berefek buruk pada lingkungan maupun kondisi lainnya.



Peneliti dari Durham University Inggris, Richard Davies mengatakan, lamanya waktu semburan lumpur Lapindo ini, adalah efek dari banyaknya volume lumpur yang terus dikeluarkan. Tugas terbesar yang harus dilakukan saat ini, adalah dengan tidak melihat kembali ke masa lalu, namun bagaimana caranya agar lumpur ini, tidak semakin membuat buruk kehidupan di kota Sidoarjo.

" Tugas kami saat ini bersama dengan ilmuwan lain di dunia. Adalah untuk melihat masa depan, dan bagaimana membuat perencanaan mengatasi lumpur Lapindo ini," ujar Davies, di sela acara Simposium in Indonesia Mud Volcano, di Surabaya, Kamis 26 mei 2011.

Lebih lanjut Davies mengaku tidak setuju dengan pendapat para ahli yang menyebutkan lumpur Lapindo diakibatkan oleh bencana alam. Menurutnya, semburan lumpur yang terjadi, murni akibat dari kesalahan drilling atau pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas. Ia juga meminta kepada pemerintah Indonesia untuk mengkaji kembali rencana pengeboran di desa Kalidawir, kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Kajian itu diperlukan, agar tidak terjadi lagi hal yang sama, seperti saat pengeboran di Sumur Banjar Panji I. Apalagi, saat ini, masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya, masih trauma dengan tragedi 5 tahun yang lalu.

Sementara itu, Max Rudolph dari Berkeley University, California, justru memprediksi semburan lumpur Lapindo, akan berlangsung hingga 80 tahun ke depan. Alasannya, tidak jauh berbeda dengan Davies, dimana tekanan dan volume lumpur yang terus fluktuatif menjadi penyebabnya.

Simposium di Surabaya ini, digelar oleh Humanitus Foundation. Organisasi nirlaba ini, menghadirkan 17 peneliti terkemuka dari Australia, Inggris, Rusia, Jepang, Amerika dan Indonesia, untuk merumuskan cara bagaimana penanganan lumpur Lapindo, pasca 5 tahun semburan, di tanggal 29 Mei 2006 lalu.

Sumber : Y.Guntur.W

Senin, 13 Juni 2011

Dampak Kekerasan pada anak

Moore (dalam Nataliani, 2004) menyebutkan bahwa efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak mempunyai kepibadian sendiri; ada yang sulit menjalin relasi dengan individu lain dan ada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh kurang normal juga rusaknya sistem syaraf.

Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam, dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Bahkan, Komnas PA (dalam Nataliani, 2004) mencatat, seorang anak yang berumur 9 tahun yang menjadi korban kekerasan, memiliki keinginan untuk membunuh ibunya.

Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse) , antara lain; 1) Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia; 2) Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri; 3) Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991); 4) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

Dampak yang lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.
Berdasarkan uraian diatas dampak dari kekerasan terhadap anak antara lain; 1) Kerusakan fisik atau luka fisik; 2) Anak akan menjadi individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan agresif: 3) Memiliki perilaku menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh diri; 4) Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri, dll; 5) Pendidikan anak yang terabaikan.

Sumber : Psikologi anak By Admin Blog

Layanan Konseling Kelompok

A. PENGERTIAN

Pelayanan konseling dan bimbingan kelompok sama-sama menggunakan format kelompok.

Bimbingan kelompok adalah salah satu kegiatan layanan yang paling banyak dipakai karena lebih efektif. Banyak orang yang mendapatkan layanan sekaligus dalam satu waktu. Layanan ini juga sesuai dengan teori belajar karena mengandung aspek social yaitu belajar bersama. Peserta layanan akan berbagi ide dan saling mempengaruhi untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya.

150 orang menjadi 12 kelompok layanan yang hendaknya dilaksanakan oleh konselor sekolah.

Layanan Konseling kelompok ada 2 macam yaitu konseling dan bimingan kelompok. Yang sangat menentukan keefektifan layanan kelompok adalah suasana kelompok yang:

1. Interaksi yang dinamis

2. Keterikatan emosional

3. Penerimaan

4. Altruistik, mengutamakan kepedulian terhadap orang lain

5. Intelektual (rasional, cerdas dan kreatif). Menambah ilmu dan wawasan individu serta dapat menumbuhkan ide-ide cmerlang.

6. Katarsis (mengemukakan uneg-unegnya, idenya dan gagasannya). Menyatakan emosinya yang lebih mengarah pada pengungkapan pmasalah yang dipendam.

7. Empati (suasana yang saling memahami tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan sehingga dapat menyesuaikan sikapnya dengan tepat).

Hal ini diciptakan melalui pentahapan dan kemampuan pemimpin kelompok.

Perbedaan antara Bimbingan dan Konseling Kelompok umumnya adalah ada pada masalah yang dibahas. Masalah Bimbingan kelompok biasanya membahas masalah-masalah umum bagi peserta layanan. Jika suasana kelompok belum tercipta maka sulit bagi peserta layanan untuk mengungkapkan masalah pribadinya sehingga konseling kelompok agak sulit pelaksanaannya dibanding Bimbingan kelompok. Dari itu, Bimbingan kelompok sangat menentukan pelaksanaan konseling kelompok.

Pelaksanaan layanan dapat dilaksanakan dimana saja asal tidak mengganggu proses layanan dimana dinamika kelompok berlagsung maksimal dalam mencapai tujuan



B. TUJUAN

Umum: mengembangkan kepribadian siswa dimana berkembang kemampuan sosialisasinya, komunikasinya, kepercayaan diri, keperibadian, dan mampu memecahkan masalah yang berlandaskan nilai ilmu dan agama.

Khusus:

1. Membahas topic yang mengandung masalah actual, hangat dan menarik perhatian anggota kelompok.

2. Konseling kelompok membahas masalah pribadi individu

C. KOMPONEN

1. Konselor: sebagai pemimpin kelompok dengan kemampuan

· Menciptakan suasana kelompok sehingga terciptanya dinamika kelompok

· Berwawasan luas (ilmiah dan moral).

· Mampu membina hubungan antarpersonal yang hangat, damai, berbagi, empatik, altruistik, jauh dari kesukaaan untuk membuat kelompok.

Peranan PK:

· Membentuk kelompok

· Melakukan penstrukturan

· Mengembangkan dinamika kelompk

· Mengevaluasi proses dan hasil belajar

Jumlah kelompok: 8-10 orang dengan memperhatikan homogenitas dan heterogenitas kemampuan anggota kelompok. Kemampuan dengan perbandingan 2:1 antara yang pintar atau kurang pintar. Dari segi jenis pria atau wanita yaitu 1:1.

Peran anggota kelompok:

1. Aktif, mandiri melaui aktivitas langsung melalui sikap 3M (mendengar dengan aktif, memahami dengan positif dan merespon dengan tepat), sikap seperti seorang konselor.

2. Berbagi pendapat, ide dan pengalaman

3. Empati

4. Menganalisa

5. Aktif membina keakraban, membina keikatan emosional

6. Mematuhi etika kelompok

7. Menjaga kerahasiaan, perasaan dan membantu serta

8. Membina kelompok untuk untuk menyukseskan kegiatan kelompok.

D. ASAS

Dalam Bimbingan kelompok, asas yang dipakai:

1. Kesukarelaan

Tidak ada pemaksaan dalam mengemukakan pendapat.

2. Keterbukaan

Adalah keterusterangan dalam memberikan pendapat.

3. Kegiatan

Partisipasi semua anggota kelompok dalam mengemukakan pendapat sehingga cepat tercapainya tujuan Bimbingan kelompok.

4. Kenormatifan

Aturan dalam menyampaikan ide dan gagasan hendaknya dengan baik, benar, gaya bahasa yang menyenangkan, tidak menyalahkan anggota kelompok.

5. Kerahasiaan : ini terakhir karena topic (pokok bahasan) bersifat umum.

Dalam konseling kelompok, asas yang dipakai :

1. Kerahasiaan

Karena membahas masalah pribadi anggota (masalah yang dirasakan tidak menyenangkan, mengganggu perasaan, kemauan dan aktifitas kesehariannya).

2. Kesukarelaan

3. Keterbukaan

Semua anggota kelompok adalah konselor terhadap anggota yang dibahas masalahnya.

4. Kegiatan

5. Kenormatifan

Pembentukan kelompok untuk satu kelas:

1. Sederhana

Dengan menghitung dalam satu kelas.

2. Lebih rasional

· Siswa dibagi dalam kelompok dengan criteria tertentu seperti: hasil AUM PTSDL atau UMUM, tes, jenis kelamin, hasil sosiometri.

Hal yang dipertimbangkan pembentukan kelompok :

1. Homogenitas secara relative (ex: kesamaan jauh dekat tempat tinggal).

Hal yang perlu diperhatikan: jika ingin Kelompok yang sama: maka didahulukan dengan Bimbingan kelompok lalu dilanjutkan dengan konseling kelompok.

Pemimpin kelompok yang sama akan menjadikan kelompok lebih dinamis, efektif, efisien

2. Heterogenitas (ex: perbedaan sosio-ekonomi)

Perbedaan:

3. Sumber pertimbangan: himpunan data dan hasil instrumentasi.

4. Penempatan dalam kelompok: berupa penugasan, penetapan secara acak dan pilihan individu/anggota.

Jenis anggota kelompok: ada Kelompok tertutup yaitu anggota tetap dan tidak berubah jumlah anggota dan Kelompok terbuka yaitu anggota bergantian dan tidak menetapkan.

Pengertian adalah sejumlah orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. BKp agar Pemahaman dan informasi baru

KKp agar Pengentasan masalah pribadi anggota kelompok

Tahap-tahap Bimbingan kelompok :

A. PEMBENTUKAN

Anggota Kelompok hendaknya:

1. Mengetahui tujuan dibentuknya kelompok.

2.

B. PERALIHAN: untuk meninjau pemahaman anggota kelompok terhadap apa yang akan dilaksanakannya seperti masih ragu-ragu untuk mengikuti layanan konseling kelompok. Lihat suasana dan situasi anggota keloompok.

C. KEGIATAN

Pelaksanaan

D. PENGAKHIRAN : mengecek apa yang telah dicapai anggota kelompok (evaluasi). Penyampaian kesan dan pesan serta menanyakan kapan akan dilaksanakan layanan Konseling kelompok kembali.

Isi layanan:

Bimbingan kelompok: Tugas (membahas tentang topik yang duberikan oleh PK) ex: pembahasan tentang situs porno. Hal yang dipertimbangkan adalah kemampuan dan tingkat perkembangan anggota kelompok. Dan bebas (topic diberikan oleh anggota kelompok untuk dibahas dalam kelompok) ini adalah kesempatan yang disediakan oleh konselor kepada anggota kelompok untuk menyampaikan pendapatnya.

Dalam konseling kelompok adalah membahas masalah individu. Setiap anggota menyampaikan permasalahannya, namun tidak harus semua anggota kelompok. Jika telah terkemukakan masalah, maka perlu dibahas dan dimusyawarahkan masalah siapa yang terlebih dahulu masalahnya dibahas.

Teknik

UMUM:

1. Bagaimana menciptakan dinamika kelompok melalui komunikasi yang terarah, dinamis dan menyeluruh pada semua anggota kelompok (komunikasi multiarah) yang efektif, terkendali.

2. Pemberian rangsangan agar anggota berinisiatif mengemukakan pendapat untuk berdiskusi.

3. Dorongan minimal agar anggota kelompok terus beraktivitas

4. Penjelasan lebih mendalam tentang pendapat yang dikemukakan.

5. Pelatihan terhadap tingkah laku baru bagi anggota kelompok.

Kegiatan selingan: permainan-permainan yang fungsinya: selingan, pembinaan, mengintrospeksi diri.

Jika permasalahan individu belum terpecahkan dalam kegiatan konseling kelompok maka bisa diteruskan dengan pelayanan konseling individual. Seorang PK tidak perlu tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah yang ada, karena masalah hendaknya didalami dengan baik, mencari waktu selain waktu belajar. Penilaian terhadap sasaran layanan hendaknya jelas apa yang ingin dinilai, sehingga bisa menentukan instrumentasi evaluasi yang akan dipakai. Seorang konselor menilai dengan assesmen berupa komentar dengan nilai normatif seperti A, B, C atau Baik, Cukup, Kurang.


Sumber: Ifdil

Konselor hendaknya mampu mengembangkan kepribadian